Sabtu, 31 Agustus 2013

Kritik & Saran dari Foke untuk Jokowi-Ahok


Kendati jarang muncul di publik setelah tak lagi menjabat Gubernur, namun Fauzi Bowo tetap ikuti perkembangan Kota Jakarta di bawah kepemimpinan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama.

Saat ditemui pada akhir pekan lalu, lelaki yang akrab di sapa Foke itu menilai ada beberapa kebijakan yang di ambil oleh Gubernur dan Wagub DKI Jakarta, yang di anggap sudah tepat.

Namun, lelaki yang khas dengan kumis tebalnya itu juga melihat ada kebijakan-kebijakan yang diambil oleh Jokowi- Ahok selama hampir satu tahun menjabat, yang belum mampu menyelesaikan per- soalan-persoalan di Ibukota.

Sebagai orang yang pernah berkecimpung di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta selama bertahun-tahun, Foke pun memberikan saran dan masukan untuk suksesornya itu. Salah satunya mengingatkan Jokowi-Ahok untuk menyiapkan kebijakan dan strategi yang tepat dalam menghadapi perubahan iklim global.

Berikut saran dan penilaian yang diberikan oleh Foke untuk Jokowi dan Ahok:

1. Pembatasan Kendaraan Bermotor di Jakarta

Fauzi Bowo mengatakan ia prihatin melihat jumlah kendaraan di Kota Jakarta terus meningkat. Ia pun mengingatkan Jokowi dan Ahok untuk bisa mengambil kebijakan yang efektif dalam mengatasi hal ini, jika Jakarta mau bebas dari hantu kemacetan.

"Ini seperti tanpa akhir dan only sky is the limit," ujarnya di Jakarta beberapa waktu lalu.

Foke mengatakan, penting untuk diketahui bagaimana Pemprov DKI Jakarta mengantisipasi peledakan jumlah kendaraan bermotor seperti sekarang, yang mungkin akan lebih parah di waktu mendatang. Ia pun mengatakan, kajian-kajian untuk pembatasan kendaraan bermotor sudah banyak dilakukan, sehingga sekarang dibutuhkan keberanian Jokowi-Ahok untuk beraksi.

"Memang tidak mudah. Ini semua ada langkah-langkahnya, yang penting warga dapat jaminan, dan langkah yang diambil adalah yang benar serta bisa selsaikan masalah ini diwaktu mendatang", katanya.

Fauzi Bowo juga memberi masukan agar, Jokowi dan Ahok memperkuat koordinasi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat, untuk mendapatkan kebijakan dalam menekan angka pertumbuhan kendaraan bermotor. Ia melihat saat ini, antara Pemprov DKI Jakarta dan pemerintah pusat terkesan berjalan sendiri-sendiri.

"Jadi ini tidak mungkin jumlah kendaraan dibatasi, kalau tidak ada kebijakan yang terintegerasi atau terpadu, ini semua merupakan tantangan, saya yakin bahwa ini bisa dicari solusi asal diawali dengan niat dan tidak ada solusi jangka pendek,selesai 5 tahun yang penting harus konsisten dan kontinuitas," tandasnya.

2. Penataan PKL di Jakarta

Fauzi Bowo mendukung kebijakan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan Wagub Basuki Tjahaja Purnama dalam melakukan penataan dan relokasi pedagang kaki lima (PKL), di wilayah DKI Jakarta. Ia mengatakan memang sudah seharusnya hal itu dilakukan.

Pria yang akrab disapa Foke itu pun berbagi pengalaman saat ia melakukan relokasi PKL di Pasar Senen, Jakarta Pusat.

"Waktu itu saya tanya sama yg dagang disana, 'Pak gimana kalo kita pindah kesana, kepinggiran, ke tempat yang udah di sediakan' mereka bilang, jawabannya rata-rata 'Pak lebih baik jalanan ini buat kita dagang. mobilnya aja yang pindah ketempat lain'," ujarnya.

"Tapi kan itu tidak mungkin, sebab segmen kota dan sarana prasarana kota ada fungsinya. Memang jalanan bukan buat orang dagang, kalau di kembalikan ke fungsinya ya memang sudah seharusnya begitu," tambahnya.

Fauzi Bowo berharap apa yang dilakukan oleh Jokowi-Ahok ini bisa konsisten di lakukan, dan tidak hanya sementara waktu saja, tanpa membeda-bedakan lokasi penertiban. "Semoga langgeng, inikan untuk kebaikan bersama, jadi harus di lihat dari kacamata yang proposional," tandasnya.

3. Lelang Jabatan Lurah dan Camat

Salah satu kebijakan yang diambil oleh Gubernur DKI Jakarta Jokowi dan Wagub Basuki Tjahaja Purnama, adalah mencari lurah dan camat dengan melakukan mekanisme lelang jabatan.

Meski sempat menimbulkan pro dan kontra dari beberapa pihak, namun menurut Fauzio Bowo mekanisme lelang jabatan yang dilakukan oleh Jokowi-Ahok tidak ada salahnya dilakukan. "Selama hasilnya bagus, ya Alhamdulillah. Kalau memble itu yang salah," katanya.

Meski tidak mengkritik kebijakan itu, namun Foke yakin jika kemampuan PNS yang sebelumnya ditunjuk untuk posisi lurah dan camat sudah baik.

"Yang saya tahu, lelang jabatan yang menang dia-dia juga (orang-orang yang sudah pernah menjabat lurah dan camat). Coba cek deh, 80 persen emang yang sudah jadi lurah, jadi berarti orang-orang itu sudah paham apa yang harus dikerjakan. Kecuali dari lelang itu ada 250 orang luar, nah baru deh tuh namanya aneh, berarti pembinaan kemampuan kepemimpinan di Jakarta buruk, tapi sekarang kan gak," jelasnya.

Fauzi Bowo menambahkan, saat ini yang di perlukan adalah pengawasan yang baik serta sinergi yang baik dari pimpinan Pemprov DKI Jakarta terhadap bawahannya. Sehingga mereka benar bekerja dengan tulus, bukan karena takut.

4. Ambil Kebijakan Tepat Hadapi Urbanisasi

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, pada tahun ini Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan Wagub Basuki Tjahaja Purnama memutuskan untuk menghapus operasi yustisi kependudukan (OYK), terhadap warga pendatang baru.

Menanggapi hal itu, Fauzi Bowo mengatakan hal itu boleh saja dil akukan. Namun, jika melihat data dari dinas kepedudukan dan catatan sipil yang mengatakan ada peningkatan jumlah warga urban ke Jakarta pasca lebaran tahun ini, Foke mengingatkan Jokowi-Ahok harus punya cara untuk mengantisipasi hal itu.

"Saya kira kita jangan lihat metodenya, caranya kaya apa itu bisa aja berbeda-beda, tapi yang jelas satu hal, bahwa kalau lebih banyak kaum migran bertumpuk di satu tempat, maka masalahnya, ini tidak ada intsrumen pengendalinya, maka kawasan urban itu tidak bisa lagi memberikan layanan untuk masyarakat tersebut," ujarnya.

Disinilah Foke mengingatkan Jokowi-Ahok agar tidak sampai Jakarta mengalami kebangkrutan seperti di Detroit, Amerika Serikat. Sebab dengan banyaknya warga, maka kota harus juga mengeluarkan dana yang besar untuk memberikan pelayanan kepada masyarakatnya.

"Pada dasarnya banyak kota-kota besar kita yang sudah tidak lagi mempunyai kemampuan untuk membiayai pelayanan kepada masyarakatnya dengan baik, ini dikarenakan pengambilan kebijakan yang keliru sehingga tidak ada lagi balace antara kemampuan untuk melayani dan disatu sisi kemampuan untuk membiayai layanan itu, ini yang gak boleh terjadi, karena kalau salah manajemen dengan keliru maka dia akan dihadapi satu skenario yang ujungnya kebangkrutan," jelasnya.

5. Pembangunan Rusun

Sejak menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur, Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama gencar melakukan pembangunan rumah susun sewa sederhana (Rusunawa) di beberapa lokasi.

Rusunawa itu juga di gunakan untuk menampung warga yang direlokasi dari permukiman kumuh, serta di bantaran waduk dan sungai di Jakarta.

Fauzi Bowo mengatakan, selain membangun Rusunawa Jokowi-Ahok juga harus membangun kemampuan pembiayaan dan kemampuan dari masyarakat untuk berkontribusi."Contohnya di Singapura, saat membangun perumahan, yang dibangun bukan cuma rumah tapi bangun dulu kesejahteraan wargannya, sehinga mereka mampu membeli," ujarnya.

Ia melanjutkan, dengan demikian kesejahteraan terbangun secara integrasi, selain itu beban Pemprov pun akan berkurang. "Bangun boleh saja, asal jangan bikin bangkrut nantinya," ucapnya.

sumber : metropolitan.inilah.com