Selasa, 06 Maret 2012

Kemayoran Punya Benyamin Suaib


Dasawarsa 60-an sampai awal 80-an, di Kemayoran masih mudah ditemukan empang, encek gondok, dan banyak lagi benda khas "rume kite" jaman itu.

Masa itu di Jakarta -juga Indonesia- nama Benyamin Suaib sangat terkenal, dari anak-anak sampai engkong-engkong pasti tahu anak Kemayoran itu.

Benyamin Suaib, dengan mitra duetnya, Ida Royani, begitu kondang dan menjadi tokoh penting dalam budaya dan seni nasional. Walau telah tiada, malam penghormatan terhadap Benyamin S (begitu biasa dia di-"notasikan" dalam aksara nama) diadakan secara rancak oleh panitia Java Jazz 2012, di Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu malam.

Panitia pelaksana Java Jazz 2012 menamainya Benyamin On Jazz - Tribute To The Legend, diisi oleh banyak musisi muda Tanah Air, yang wawasan dan kemampuan musikalitasnya sangat mumpuni.

Kenapa ada Benyamin S dalam Java Jazz 2012? Tidak banyak generasi masa kini yang tahu bahwa pada waktu nama hotel Des Indes masih ada di Jakarta, pada dasawarsa '50-an, dia sudah sepanggung dengan Bill Saragih, salah satu pilar jazz Indonesia pada masa itu! Bayangkan, Benyamin S yang suka ngedumel, ngomel, celoteh, dan balada plus berdangdut ria sambil tetap setia dengan darah Betawi-nya melalui gambang-keromong, bisa ber-jazz?

Sedikit mengingatkan, Benyamin S juga kerap sepanggung dengan Melody Boys dan Jack Lemmers alias Jack Lesmana (ayah kandung Indra Lesmana) pada masa-masa itu, masa Restoran Ramayana di Hotel Indonesia menjadi klub yang sangat elit dan berwibawa pada masanya. Kekonyolan dan spontanitas --asli spontan!-- Benyamin S mengisi relung kerinduan orang akan orisinalitas sikap; juga dalam bermusik.

Namun itulah faktanya… Publik juga menyambut antusias, buktinya nama Benyamin S jadi rebutan produser film dan banyak panggung tersedia untuk dia ditambah dapur rekaman, di antaranya Ramaco. Benyamin S lahir di Kampung Utan Panjang, Kemayoran, pada 5 Maret 1939 dan menutup mata selamanya pada 5 September 1995, dan namanya kini diabadikan menjadi Jalan Benyamin Suaib, juga di Kemayoran, bekas Bandar Udara Internasional Kemayoran.

Kini, panggung untuk mengenang Benyamin S digelar. Musisi yang mengusung malam penghormatan itu adalah Indra Aryadi, gitaris yang juga komposer. Dia tidak sendiri, masih ada Indro Hadjodikro, Krishna Balagita, dan grup Indra Aryadi and Friends. Yang menarik, banyak musisi muda Indonesia terlibat, sehingga ada kesan bahwa ini adalah milik kita semua.

Mulai dari grup Indonesian Youth Regeneration, sampai Didiet Violin. Yang menjadi penciri utama konser malam itu adalah eksplorasi seorang Benyamin S dalam "arwah" jazz. Tidak salah jika kemudian dikatakan, "Perkutut", lagu Betawi Benyamin S yang kondang itu cita-rasanya sangat berbeda! walau "Perkutut" tetaplah perkutut.

Orang banyak terkekeh lucu mendengar lagu lain lagi, "Eh ujan gerimis ajee…" Tapi kali ini, rasa lucu itu berubah menjadi kagum manakala Indra Aryadi & Friends, Demas Narawangsa (drums), Zoltan Reinaldi (bass/kontrabass), Yoseph Sitompul (piano akustik/syntheziser), Reno Castello (gitar elektrik), menjadi latar bagi  guitar) Subway Heat, Yessi Kristianto featuring Albert Fakdawer, IYR, Indra Aryadi & Brinets "Indonesian Idol", Kosakata, Indro Hardjodikoro, Krishna Balagita, Didiet Violin, dan Soundshine featuring R2 Rhythm.

Jika dalam khazanah musik jazz, Ella Fitzgerald memberi pijakan penting dalam bermusik, sebagaimana Frank Sinatra dan Bing Crosby dalam musik pertunjukan dan seni peran, maka Benyamin S boleh diposisikan seperti itu. Dia seniman lengkap, bisa berperan, berpuisi, berolah kata, dan jelas: bermusik dengan rentang musik yang sangat kaya.

Kecintaan Benyamin S pada negaranya, Indonesia, sangat besar. Itu juga yang digali habis-habisan oleh Indra Aryadi and Friends secara paripurna. Banyak sentuhan Indonesia dalam tautan nada-nada dan teknik olah vokal sebagaimana teknik bermusik pada musisi pendukung. Jelas, ini bukan karya yang sambil lalu melainkan hal yang sangat serius dikerjakan.

"Janda Kembang", konotasinya pasti tertentu jika kata judul itu diucapkan. Sekali lagi, komposisi lagu berjudul dua kata itu menjadi beda sama-sekali dalam paduan jazz… Jazz, sesuai ideologi musik yang dia hadirkan, adalah improvisasi dan kebebasan, dan banyak lagi…

www.antaranews.com