Sabtu, 03 Maret 2012

Jalan Gunung Sahari Tahun 1870



Bisa jadi, hampir tidak seorangpun dapat menebak, kira-kira di mana letak lokasi pada sebuah gambar yang di abadikan photografer Woodbury & Page pada tahun 1870-an. Padahal bagi warga Jakarta (khususunya warga Kemayoran dan sekitarnya), hampir tiap hari melintasinya, ketika dari Pasar Senen menuju Pasar Baru. Inilah Jalan Gunung Sahari, ketika diabadikan 136 tahun lalu bernama 'Groote Zuider Weg' atau 'Jalan Raya ke Selatan'.

Kalau saat ini melintas Jalan Gunung Sahari, kita akan di hadapkan pada kemacetan yang seolah tidak pernah habis-habinya. Sungguh berbeda kondisinya dengan tempo doeloe yang cenderung sepi dan lengang. Di bagian tengah masih dapat kita saksikan kanal Gunung Sahari dari codetan sungai Ciliwung mengalir dari Harmoni - Pasar Baru - Gunung Sahari - hingga ke tepi pantai di Ancol.

Menurut De Haan dalam tulisannya 'Oud Batavia' (1678), Pemerintah Kolonial Belanda membangun sebuah jalan dari laut di sebelah utara Ancol ke Meester Cornelis (Jatinegara) di selatan. Groote Zuider Weg melewati Senen-Kramat-Salemba-Meesterr Cornelis. Yang kemudian jalan inilah yang merupakan akses utama ke Bogor, Cianjur dan Bandung. Kemungkinan kanal Gunung Sahari mulai dibangun akhir abad ke-17 (1681). Tapi lokasi awal dan bentuknya berbeda dari kanal yang memanjang sekarang ini.

Sebelumnya, seorang arsitek Tionghoa, Phoa Bing Ham, pada 1648 telah meluruskan kanal Molenvliet yang sebelumnya berbelok-belok. Dan, sejak abad ke-19 Kanal Gunung Sahari ini di hubungkan dengan kanal Molenvliet yang mengalir dari Noordwijk (Jl Juanda) dan Rijswijk (Jl Veteran) terus sepanjang Postweg (Jl Pos) dan Schoolweg (Jl Dr Sutomo) di Pasar Baru.

Foto ini diambil ke arah paling selatan Jalan Gunung Sahari yang pada abad ke-19 populer sebagai kawasan tempat tinggal. Di kiri kanan kanal (sungai) kita masih dapati rumah-rumah, yang kini telah berubah sama sekali. Rumah-rumah yang dulu umumnya di huni warga Belanda, kini menjadi area perkantoran. Di jalan ini juga terdapat Markas Besar Angkatan Laut (MBAL) sebelum di pindah ke Mabes ABRI Cilangkap, Jakarta Timur. Sampai awal 1960, trem listrik dari Jatinegara ke Sawah Besar dan Kota melewati Gunung Sahari, terus membelok ke arah Pintu Besi (kini Jl Samanhudi).

Pada abad ke-18, orang-orang kaya yang semula tinggal di Jacatraweg (kini Jl Pangeran Jayakarta), banyak yang pindah ke Jl Gunung Sahari, Jl Hayam Wuruk dan Jl Gajah Mada yang dahulu disebut Molenvliet. Jalan Gunung Sahari tempo doeloe banyak di tumbuhi pepohonan sangat rimbun hingga sedap dipandang mata. Lihatlah lampu-lampu gas yang banyak terdapat di kiri kanan tepi kanal. Ketika itu, pabrik gas yang berpusat di Jalan Ketapang (kini Jl KH Zainul Arifin) baru saja berproduksi. Sebelumnya rumah-rumah kediaman termasuk istana gubernur jenderal dan hotel-hotel memperoleh penerangan dari lilin atau minyak tanah.

Sumber : REPUBLIKA (Sabtu, 07 Oktober 2006)