Senin, 02 Mei 2011

Silat Betawi ; Tempo Doeloe & Masa Depan

 
Sebuah Kelompok Pencak Silat pada Lebaran Betawi
Tak dapat dipungkiri bahwa Pencak Silat Betawi tidak terlepas dari sejarah perkembangan dan dinamika Jakarta, sejak dahulu tanah Betawi sudah menjadi kota kosmopolitan tempat dimana pertemuan berbagai ragam budaya, suku bangsa, seperti suku-suku dari daerah-daerah di Nusantara hingga bangsa lain seperti Arab, Melayu, India, Cina, Portugal, Belanda dan lain-lainnya. 

Sejak pasukan kesultanan Demak yang dipimpin oleh Fatahillah berhasil menguasai Sunda kelapa di tahun 1527. Di saat itu pulalah tertancap sebuah tonggak "peradaban baru" bernama Jayakarta.  Hingga kini tanggal 22 Juni senantiasa diperingati warga Jakarta sebagai hari jadi kotanya. Selanjutnya segenap masyarakat pemukim mulai berperan dalam sebuah episode panjang tentang dinamika perubahan demi perubahan.

Seorang antroplog, Dr Yasmin Zaki Shahab MA, memperkirakan etnis Betawi terbentuk sekitar tahun 1815-1893. Oleh sebab itu orang betawi sebenarnya terhitung sebagai “pendatang baru” di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari asimilasi berbagai kelompok etnis lainnya yang sudah terlebih dahulu hidup di Jakarta seperti orang sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon dan melayu serta para imigran dari mancanegara.

Kemajemukan ini pula yang menye-babkan terjadinya kombinasi seni, budaya, adat istiadat hingga ilmu beladiri yang berkembang saat itu atau yang lebih popular dengan istilah “Maen Pukulan” (Silat). Adapun Pencak Silat telah mewarnai kehidupan masyarakat Betawi dan bahkan seolah hal yang demikian merupakan satu kegiatan “wajib” bagi para pemuda lokal ; selain tadarusan (membaca Al-Qur’an) tentu saja.

Pencak Silat diperkirakan sudah ada sejak abad ke 16 dimana pada masa itu masyarakat setempat senantiasa menampilan Seni Pertunjukkan Silat dalam acara-acara seremonial ataupun hajatan. Hal yang demikian telah cukup membuktikan bahwa sesunguhnya silat tidak hanya berfungsi sebagai ilmu beladiri namun sudah menjadi suatu produk sosial, seni budaya yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari.

Silat Betawi terkenal dengan aliran-alirannya yang merunut pada asal kampung atau daerah perkembangannya. Sebagaimana yang diutarakan oleh seorang pengamat budaya, Prof Dr Parsudi Suparlan, “bahwa masyarakat Betawi dalam pergaulannya sehari-hari, lebih sering menyebut dirinya berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, semisal orang Kemayoran, orang Senen atau orang Rawabelong”.

Adanya dikotomi kewilayahan tersebut lantaran pada saat itu kesadaran sebagai masyarakat Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu belum begitu mengakar. Baru pada tahun 1923 Moh Husni Thamrin dan tokoh masyarakat betawi mendirikan Perkumpulan Kaum Betawi di masa Hindia belanda telah menyadarkan segenap orang betawi sebagai sebuah golongan (kelompok etnis sebagai satuan sosial dan politik yang lebih luas) sebagai golongan orang Betawi.

Dari penjelasan diatas terdapat relevansi, bila Silat Betawi dikenal dengan asal daerahnya seperti silat Kemayoran, silat Tanah Abang, silat Rawabelong dan masing banyak lainnya yang menjurus pada simbol ketokohan di setiap kampung. Sebagaimana diketahui bahwa sejak jaman dahulu hampir di setiap susut kampung Betawi terdapat jawara. Mereka disegani bukan hanya karena eksis menjaga kampung belaka, namun lebih disebabkan kharisma ketokohan berkat perilaku yang terpuji.

Pesilat atau jago “maen pukulan” ini menggunakan ilmu beladiri untuk perbuatan amar ma’ruf nahi mungkar (mengajak manusia ke jalan yang benar dan menjauhi kezaliman). H. Irwan Sjafi’e dari Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) memaparkan bahwa keberadaan mereka sangat di hormati dan hubungan dengan alim ulama pun sangat erat, sehingga jagoan dan alim ulama adalah orang yang terhormat di dalam masyarakat Betawi.

Kisah kepahlawanan para pendekar silat di masa itu cukup menarik disimak. Sebut saja tokoh si Pitung misalnya. Dia berasal dari kampung Rawabelong Kelurahan Sukabumi Utara, Jakarta Barat dan belajar silat serta mengaji dari H. Naipin. Kemahiran ilmu silatnya menjadikan Pitung memiliki kapabilitas dalam membela rakyat jelata. Salah satu epos yang cukup tersohor adalah karena keberaniannya “merampok” yang kemudian hasil pampasannya itu dibagikan kepada orang-orang miskin yang membutuhkan.

Seorang penulis berkebangsaan Belanda, Margreet van Till dalam bukunya : In Search of si Pitung, the History of an Indonesia Legend (1996). Mengungkapkan bahwa sepak-terjang tersebut menjadikan Pitung sebagai incaran belanda, namun karena penghianatan kawan seperguruannya, Pitung akhirnya tertembak oleh Schout Van Hinne dan keesokan harinya wafat pada usia muda (17 Oktober 1893). Beritanya dimuat dalam mass media Hindia Olanda (edisi 18 Oktober 1893).

Pasca kemerdekaan RI tahun 1945, Kota Jakarta “kebanjiran” kaum urban dari segenap penjuru Indonesia. Lambat laun orang Betawipun “tergoda” untuk menjual pekarang mereka sepetak-demi sepetak kepada mereka. Belum lagi dimasa orde baru dimana konsepsi pembangunan seolah tersentral di Ibu Kota sehingga semakin “menggusur sang pribumi” dari kampung halamannya.

Seiring dengan “terdesak” nya masyarakat Betawi kepinggiran Jakarta, silat Betawipun ikut tergusur bersamanya. Masing-masing kelompok aliran ilmu silat Betawi “terpaksa” mengembangkannya dipelosok kampung demi upaya mewariskan secara turun menurun kepada keluarga ataupun masyarakat setempat. Jadi kita tak usah heran apabila ternyata seni silat Betawi kini lebih dipelajari dan diperagakan oleh kalangan muda dari wilayah provinsi lain ketimbang di tempat asalnya.

Aida Arsyad